• 14-17 March 2019
  • Jakarta Convention Center

Industri Keramik Bangkit Usai Terjepit

0

Gempuran keramik impor asal China, ditambah harga gas yang terus melambung membuat industri keramik Indonesia terjepit. Namun angin segar masih berhembus, pasca-penerbitan aturan safeguard yang diharap bisa membatasi laju produk keramik impor.

Industri keramik saat ini memang sedang menghadapi tantangan. Salah satu diantaranya adalah banjirnya impor dari China. Hal ini membuat adanya produsen keramik yang mengubah core business-nya dari produksi keramik menjadi importir keramik untuk dapat bertahan di industri ini.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, impor keramik yang masuk ke Indonesia di tahun 2017 mencapai US$ 181,46 juta dan melonjak naik di tahun 2018 menjadi US$ 288,26 juta dengan kenaikan mencapai 66%.

Hal ini disebabkan ukuran dan kualitas produksi dalam negeri dianggap belum mampu untuk memenuhi standar dari permintaan pasar atau tren penggunaan keramik saat ini. Selain itu, banjirnya impor yang datang dari China seiring dengan diberlakukannya Kawasan Perdagangan Bebas China dan ASEAN atau ChAFTA yang justru membuat impor ke Indonesia dari China semakin meningkat.

Tantangan yang kedua adalah penurunan industri properti. Dalam beberapa tahun terakhir, industri properti memang menunjukkan tren penurunan.

Data dari Bank Indonesia mengenai Indeks Harga Properti Residensial menunjukkan bahwa di kuartal 3 2018 ini mencatatkan penurunan sekitar 14%. Penurunan ini terjadi pada semua penjualan properti residensial untuk semua tipe rumah. Penurunan ini disebabkan karena menurunnya tingkat permintaan pasar yang merupakan imbas dari tingginya tingkat KPR.

(Via CBNC Indonesia)